Sebuah film yang hebat seharusnya tidak hanya mengandalkan bujet fantastis dan produksi mewah. Kekuatan utama terletak pada cerita yang kuat dan penuturan yang mampu menarik penonton untuk merasakan setiap emosi di dalamnya. Sayangnya, “A Normal Woman,” film terbaru garapan Lucky Kuswandi, hanya berhasil memenuhi separuh dari kriteria tersebut. Meskipun dikemas dengan visual estetik yang memukau, film ini terasa hampa dan gagal menyentuh inti permasalahan yang ingin diangkatnya.
Maksud Hati Mengangkat Isu Penting, Eksekusi Terasa Hambar
“A Normal Woman” sejatinya memiliki niat yang mulia: membahas isu kesehatan mental dan stigma yang melingkupinya dengan cara yang populer. Film ini menyajikan berbagai topik penting, seperti peremehan terhadap penderita gangguan mental dan aksi-aksi yang justru memperburuk kondisi mereka. Secara konsep, film ini cocok disebut sebagai drama psikologis atau bahkan thriller, dengan adegan teror psikis dan konflik antar karakter yang seharusnya bisa memicu emosi penonton.
Namun, di sepanjang durasi film, pengalaman menonton terasa seperti sebuah sesi “sosialisasi”—penuh informasi, tapi tanpa kedalaman. Penyampaiannya kaku, menjemukan, dan tidak menggugah. Berbagai simbolisme yang disajikan terasa edgy, tapi tidak mampu menciptakan dampak emosional yang kuat. Lucky Kuswandi dan penulis skenario Andri Cung seolah menulis skenario tanpa pernah benar-benar merasakan atau memahami konflik emosi yang mereka coba gambarkan. Alhasil, film ini hanya terasa seperti “tugas kuliah” yang memenuhi syarat, tapi gagal membekas di hati penonton.
Widyawati Mencuri Seluruh Perhatian, Pemeran Lain Ketinggalan Jauh
Di tengah kekosongan emosi yang terasa, hanya ada satu bintang yang bersinar terang dan mampu menyelamatkan film ini: Widyawati. Aktingnya sebagai mertua yang menyebalkan dan penuh intimidasi sungguh luar biasa. Hanya dengan tatapan mata yang melotot, ia mampu menebar aura ancaman yang menembus layar. Setiap dialog yang diucapkannya terasa menusuk, mencerminkan dikte orang tua yang merasa paling benar. Widyawati adalah ‘pemicu’ emosi sesungguhnya dalam film ini, dan ia layak mendapatkan acungan jempol.
Sayangnya, pemeran lain tidak mampu mengimbangi aura Widyawati. Marissa Anita, meskipun sudah berusaha keras dengan adegan merobek wajahnya sendiri, gagal menjadi sorotan. Alih-alih menjadi sosok suami yang mandiri, karakter Dion Wiyoko terkesan kaku dan monoton, seolah terjebak dalam bayang-bayang dominasi sang ibu. Justru, Gisella Anastasia secara tak terduga tampil lebih menarik. Tanpa perlu banyak berucap, penonton sudah bisa menebak karakternya sebagai perusak rumah tangga. Gisel memainkan peran tersebut dengan mulus, meski karakternya terasa kurang dieksploitasi oleh penulis, padahal bisa menambah bumbu emosi yang sangat dibutuhkan.
Produksi Ciamik, Namun Tak Cukup Menggantikan Kedalaman Kisah
Dari segi produksi, “A Normal Woman” pantas mendapat apresiasi. Pemilihan lokasi syuting seperti villa mewah dan estetis, efek visual yang halus, serta sinematografi yang tajam menjadi keuntungan tersendiri. Namun, semua kemewahan teknis ini tidak bisa menutupi kekurangan cerita.
Film ini tak bisa bersaing dengan drama seperti “The Penthouse,” yang meskipun ceritanya absurd, mampu menghadirkan karakter yang kuat, penuturan emosional, dan berhasil memainkan emosi penonton dengan sangat baik. Hal-hal inilah yang luput dari “A Normal Woman.”
Pada akhirnya, “A Normal Woman” hanyalah film yang “cukup normal.” Tak ada elemen khusus yang membuatnya berkesan, dan ia menjadi pengingat bagi platform seperti Netflix untuk lebih ketat dalam memilih proyek. Sebuah film yang baik haruslah memiliki jiwa, dan film ini, sayangnya, hanya memiliki cangkang yang indah. Baca berita lain di sini.
