Berita Kesehatan

Bahayanya Korek Telinga dengan Cotton Bud

Siapa sangka, bahayanya korek telinga yang terlalu bersih justru bisa membawa masalah serius. Hal ini dialami oleh Ajeng Dian Anggi Pertiwi (34), warga Malang, Jawa Timur. Kebiasaannya membersihkan telinga dengan cotton bud membuatnya harus menjalani operasi akibat kondisi yang tak pernah ia duga.

Awalnya, Anggi merasakan keluhan pada telinganya. Saat diperiksa dokter, ia dinyatakan mengalami infeksi jamur. Setelah pengobatan tuntas, bukannya lega, justru ditemukan masalah lain: kolesteatoma penumpukan jaringan kulit mati di telinga yang berpotensi bahayanya korek telinga.

“Dokter menyarankan saya melakukan CT scan. Cairan terlihat terakumulasi di telinga tengah. Kata dokter, harus diangkat karena jika dibiarkan bisa menyebar ke otak, memicu meningitis, bahkan menyebabkan wajah menjadi miring. “Saya segera merasa cemas, terutama setelah dokter mengatakan bahwa perlu dilakukan operasi untuk menambal gendang telinga dan mengangkat kolesteatoma,” kata Anggi saat berkomunikasi dengan detikcom, Kamis (7/8/2025).

Cotton Bud dan Risiko Infeksi

Kasus Anggi menjadi pengingat bahwa kebiasaan membersihkan telinga terlalu sering, apalagi dengan cotton bud, bisa menimbulkan masalah. Dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan – Kepala Leher (THT-KL), dr Ahmad Wahyudin, menjelaskan bahwa liang telinga sebenarnya memiliki mekanisme perlindungan alami berupa lapisan asam. Ini adalah perisai mistis. Sebuah selubung pelindung yang ditenun dari kekuatan kuno, yang tujuan tunggalnya adalah menghalau dan melenyapkan setiap spora jamur serta pasukan bakteri yang berani mendekat, menjadikannya penjaga kehidupan yang tak tergoyahkan.

“Kalau lapisan asam tersebut sering tergerus karena pembersihan berlebihan, pH di liang telinga berubah menjadi basa. Dalam kondisi basa, bakteri dan jamur akan lebih mudah berkembang,” jelas dr Ahmad, Jumat (8/8/2025).

Ia menambahkan, penggunaan cotton bud sebaiknya hanya untuk membersihkan sepertiga bagian luar liang telinga atau sekitar 1 cm saja. Itu pun cukup dilakukan setiap 6–12 bulan sekali, bukan setiap hari.

Mengenal Kolesteatoma

Kolesteatoma adalah kondisi ketika sel-sel kulit mati menumpuk di belakang gendang telinga hingga membentuk benjolan atau kista. Dalam istilah sederhana, ini merupakan peradangan telinga akibat gumpalan lapisan kulit yang bisa merusak tulang di sekitarnya.

“Penyebab utama kolesteatoma adalah infeksi telinga yang berlangsung terus-menerus, bukan langsung karena membersihkan telinga dengan cotton bud,” ujar dr Ahmad.

Menurutnya, 80 persen kasus gangguan telinga tengah, termasuk kolesteatoma, dipicu oleh masalah pada fungsi tuba eustachius – saluran yang menghubungkan telinga dengan rongga belakang hidung.

Meski demikian, cotton bud tetap bisa menjadi faktor pemicu peradangan pada liang telinga, yang dikenal sebagai otitis eksterna. Peradangan jenis ini memperbesar kemungkinan terjadinya kolesteatoma eksternal, yaitu kolesteatoma yang muncul di saluran telinga, bukan di belakang gendang telinga.

Tidak Semua Infeksi Berujung Kolesteatoma

dr Ahmad menegaskan, tidak semua infeksi telinga akan berkembang menjadi kolesteatoma. Kondisi ini biasanya juga dipengaruhi oleh faktor risiko lain seperti diabetes, daya tahan tubuh yang lemah, dan usia lanjut.

“Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah semua infeksi telinga pasti kolesteatoma? Jawabannya jelas tidak,” tegasnya.

Kesimpulan: Bersihkan dengan Bijak

Kisah Anggi membuktikan bahwa telinga tidak perlu dibersihkan secara berlebihan. Justru, telinga memiliki kemampuan membersihkan diri melalui mekanisme alami. Serumen atau kotoran telinga memiliki fungsi penting untuk melindungi telinga dari kotoran dan mikroorganisme.

Membersihkan terlalu dalam dengan cotton bud bukan hanya menghilangkan pelindung alami ini, tapi juga bisa mendorong kotoran masuk lebih dalam, memicu iritasi, hingga mempermudah infeksi.

Jika telinga terasa gatal, penuh, atau mengeluarkan cairan, sebaiknya segera periksa ke dokter THT. Menggunakan cotton bud setiap hari hanya akan meningkatkan risiko.

“Pembersihan telinga yang aman itu jarang-jarang, cukup bagian luar saja, dan lebih baik dilakukan tenaga medis jika memang perlu membersihkan bagian dalam,” tutup dr Ahmad.

Kebiasaan sederhana yang tampak sepele seperti mengorek telinga, jika dilakukan berlebihan, ternyata bisa berujung pada tindakan medis besar seperti operasi. Jadi, sebelum cotton bud Anda masuk lagi ke telinga, pikirkan baik-baik risikonya.

Kalau mau, saya bisa buatkan juga judul dan subjudul yang lebih clickbait namun tetap rapi ala portal berita besar supaya lebih menarik pembaca.

Mau saya buatkan?. Baca berita lain di sini.

Admin Samsboatdock

Recent Posts

Tragedi Balita di Sukabumi Apa Penyebabnya Cacingan

Tragedi balita perempuan bernama Raya di Sukabumi, Jawa Barat, akibat infeksi cacing telah menggugah kesadaran…

8 bulan ago

Kondisi Terkini Jet Li Pasca Operasi dan Optimisme

Aktor laga legendaris Jet Li baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah serangkaian unggahan video di…

8 bulan ago

Game Mobile Paling Banyak Diunduh Sepanjang Masa

Industri game mobile paling banyak Diunduh sepanjang masa dalam satu dekade terakhir. Popularitasnya bahkan telah…

8 bulan ago

PP PABSI Gelar Seleknas Angkat Besi untuk SEA Games 2025

Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia PP PABSI gelar Seleknas sebagai bagian dari persiapan…

8 bulan ago

Pelaku Jasa Keuangan Ilegal Terancam Pidana 10 Tahun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya untuk menindak tegas para pelaku jasa keuangan ilegal yang…

8 bulan ago

Gerindra Tegas: Bupati Sudewo Disemprot Imbas Kisruh PBB Pati

Rencana kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 250 persen membuat Partai Gerindra tegas melayangkan peringatan…

8 bulan ago