Kemenkes buka suara atas wacana cukai untuk makanan dan camilan asin mendadak menjadi sorotan, memicu diskusi panas di kalangan publik. Isu ini muncul seiring dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya konsumsi garam berlebih yang dapat memicu berbagai penyakit tidak menular (PTM). Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan tegas membantah isu tersebut, sekaligus memberikan klarifikasi mengenai fokus kebijakan pemerintah.
Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyebut bahwa wacana yang saat ini sedang berjalan dan menjadi prioritas pemerintah adalah cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Regulasi ini direncanakan untuk dilaksanakan tahun ini, meskipun pembahasan telah dimulai sejak 2007.
“Untuk makanan siap saji, belum ada rencana pengenaan cukai, lebih diutamakan pada minuman manis dalam kemasan,” tegas dr. Nadia saat dihubungi oleh detikcom pada hari Rabu (6/8/2025). Pernyataan ini cukup jelas, menepis rumor yang beredar tentang cukai untuk makanan asin.
Bahaya Garam dan Peran Cukai sebagai Pengendali
Kemenkes buka suara atas isu cukai makanan asin dibantah, dr. Nadia tetap mengingatkan masyarakat akan pentingnya membatasi konsumsi garam. Kebiasaan makan asin berlebihan secara rutin dapat memicu tekanan darah tinggi.
“Kalau konsumsi garam berlebihan, akan mempengaruhi kadar natrium dalam darah kita sehingga bisa memicu peningkatan tekanan darah,” jelas dr. Nadia. Ia menambahkan bahwa tekanan darah tinggi yang dipicu oleh konsumsi garam berlebih akan memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk membuang zat yang tidak dibutuhkan. Hal ini, dalam jangka panjang, bisa memicu berbagai masalah kesehatan yang serius.
Dr. Nadia menegaskan bahwa penerapan cukai pada makanan dan minuman berlemak, bergula, dan bergaram tinggi (GGL) merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengendalikan pola konsumsi tidak sehat di masyarakat. Tujuan tersebut adalah untuk mendorong sektor makanan melakukan perubahan pada produk, menghasilkan alternatif makanan sehat yang lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat.
“Karena kadang-kadang pola konsumsi kita berubah karena apa yang tersedia di sekitar kita itu bukan yang sehat,” kata dr. Nadia. Ia memberikan contoh tren fried chicken di Amerika Serikat yang secara signifikan menyumbang pada peningkatan kasus obesitas.
Mendorong Pilihan Sehat dan Mencegah Penyakit
Melalui ketersediaan makanan yang memiliki kadar gula, garam, dan lemak rendah, pemerintah berharap masyarakat akan lebih termotivasi untuk memilih makanan yang lebih sehat. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan untuk mengubah perilaku konsumen, tetapi juga untuk memberikan sinyal kuat kepada industri agar berinovasi menciptakan produk yang lebih baik.
“Jadi tersedia makanan yang kadar gula garam dan lemak rendah, akan mendorong industri melakukan reformulasi dan mendorong perilaku masyarakat memilih makanan lebih sehat, sehingga otomatis faktor risiko penyakit tidak menular bisa dicegah,” pungkas dr. Nadia.
Pada akhirnya, isu cukai makanan asin mungkin hanya sebatas rumor, namun pesan dari Kemenkes sangat jelas: pentingnya membatasi konsumsi GGL demi kesehatan jangka panjang. Kebijakan cukai yang sedang berjalan, seperti pada MBDK, adalah bukti komitmen pemerintah untuk menekan angka penyakit tidak menular dan menciptakan lingkungan yang mendukung masyarakat untuk hidup lebih sehat. Baca berita lain di sini.
